Mappabitte Manu Tradisi Sabung Ayam Khas Bugis Sulsel

Share:
Mappabitte atau dikenal juga Massaung adalah sebuah kegiatan mengadu Manu (Ayam) yang merupakan tradisi atau kebiasaan dari masyarakat di Sulawesi Selatan (Bugis).

Dalam acara ini biasanya dua ekor ayam jago akan diadu oleh pemiliknya menggunakan pisau taji yang dipasangkan langsung ke kaki ayam tersebut. Biasanya kedua ayam yang diadu kemudian selanjutnya akan dimasak dan dimakan beramai-ramai.

Acara ini biasanya digelar setiap ada pesta-pesta adat bugis seperti perkawinan, panen raya juga pelantikan raja atau kepala adat. Konon acara ini dahulu bermula dari kegemaran para raja yang sering mempertarungkan pemuda-pemuda diseluruh wilayah kerajaannya untuk mencari para pemberani (Pahlawan).

Karena sekarang sudah tidak ada lagi peperangan antar kerajaan dan sebagainya, maka yang diadu kemudian bukan manusia lagi tetapi digantikan oleh Ayam Jago yang notabene adalah hewan yang paling pemberani didunia.

Menurut para tetua adat Bugis, Mappabitte manu juga merupakan simbol perselisihan nafsu dan amarah yang bisa terjadi antar sesama warga. Dengan adannya kegiatan ini diharapkan jika ada perselisihan maka bisa diselesaikan dengan mengadu ayam.

Warga Soppeng Riaja Mappabitte

Seperti disebuah desa di Sulawesi Selatan yaitu Desa paccekke, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru. Ratusan masyarakat berkumpul dilapangan setempat dengan pakaian adat khas bugis. Mereka masing-masing membawa ayam jago untuk diadu pada acara Mappabitte tersebut.

Walaupun memang tujuannya hanya untuk memenuhi adat istiadat, tetapi memang kadang tidak terhindarkan terjadi yang namanya perjudian ketika proses Mappabitte.

Hal ini yang menyebabkan kadang prosesi Mappabitte harus memiliki izin dari keamanan sekitar baru bisa diselenggarakan. Yah memang karena banyak juga yang disalah gunakan semata-mata hanya menjadi arena judi saja.

Unik bukan kegiatan adu ayam di Indonesia, tidak hanya bugis saja, masih banyak lagi suku yang memiliki kebiasaan ini di Indonesia.

Tetapi acara ini bagi masyarakat bugis sudah sangat identik dengan mereka, beberapa pahlawan bugis saja seperti Sultan Hasanuddin dan La Madukelleng dijuluki seperti sifat dari ayam jago yang pantang menyerah dan tidak takut dengan siapapun.

Masalahnya kemajuan teknologi membuat semakin banyak tradisi-tradisi yang mulai dilupakan dan ditinggalkan karena sudah bukan gaya atua jamannya lagi bagi anak zaman sekarang.

Apakah tradisi ini akan hilang ditelan zaman?

Tidak ada komentar